Showing posts with label komentar. Show all posts
Showing posts with label komentar. Show all posts

Wednesday, November 19, 2008

I've moved

Saudara/i ku, blog saya yg ini insya Allah sudah tidak di uopdate lagi. Saya telah pindah ke

fachriansah.wordpress.com

Terimakasih atas perhatiannya..

Sunday, March 16, 2008

Dari novel sampai ke film, semakin mengecewakan..

Wah, akhirnya Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) yang ditunggu oleh segenap kaum muslimin di Indonesia diputar juga. Walaupun mengalami beberapa hambatan dalam pemutarannya, termasuk hambatan biaya setting latarnya, akhirnya selesai juga.
Yaah, seperti komentar ana yg dulu, film AAC ini menjadi fitnah bagi kaum muslimin, dan ternyata demikian yang telah terjadi. Tetap tidak bisa dijadikan sebagai hujjah bahwa nilai-nilai Islam yg disampaikan dalam film tersebut dapat dijadikan sbagai ajaran/nilai pembelajaran bagi umat Islam. Karena yg namanya syariat itu ketika disampaikan haruslah berdasarkan ilmu. Jangan kita berangggapan menyampaikan suatu syariat Islam, tapi dengan menginjak-injak syarian Islam lainnya. Alah memerintahkan kepada segenap ummat yang beriman untuk memeluk Islam secara keseluruhan dan menjauhi langkah-langkah syaitan. Sebagaimana dalam firman-Nya :
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu kedalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu". (QS. Albaqoroh : 208).
Lalu bagaimana kandungan nilai Islam dalam film AAC tersebut? Ketika harus menyampaikan bahwa mambaca Al-Qur'an adalah ibadah, di sisi lain adegan menyentuh wanita yang bukan mahrom juga disampaikan. Bahkan lebih ekstrimnya lagi, ketika ada yang menegur film tersebut (seperti ana), justru kaum muslimin lainnya (yang cinta abis sama film AAC) rela menghina dan mencela kaum muslimin yang menegur tersebut, seakan-akan si muslim yang hanya membela syariat Islamnya ini agar tidak diinjak-injak adalah musuh bebuyutannya.
Apa artinya ini, sesama kaum muslimin saja sudah bisa saling mencela dalam menghadapi suatu masalah yg sudah jelas halal haromnya. Bagaimana jika dihadapkan dengan permasalahan yg lebih komplit dan spesifik mengenai syariat Islam berikut perbedaan pendapat di kalangan ulama?
Bahkan, ada komentar salah seorang yg pro pada film AAC tersebut, beliau menyampaikan kutipan komentar si pemeran utama Fahri (Fedi Nurlil) dalam film AAC tersebut. Fedi Nuril menyampaikan rasa sabarnya (pembelaanya) terhadap orang-orang yg kontra dg film tersebut, apalagi komentar orang yang sama sekali belum pernah menontonnya. Tentunya kita melihat siapa yg bicara. Pembicaraan siapa yang harus lebih di dengar, Nabi (syariat Ialam) ataukah Fedi Nuril? Siapakah yang harus lebih dibela kehormatannya, Islam ataukah konsumen pencinta film?
Namun demikian, masih sangat banyak yang berkomentar dengan pembelaan kuatnya bahwa film tersbut merupakan embrio lahirnya kebudayaa Islam dalam dunia perfilman. Apakah iya? Budaya Islam sudah lahir dengan sempurna dan tidak jadi embrio lagi sejak Allah mengutus Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam di muka bumi ini. Embrio budaya+syariat Islam cuma membutuhkan beberapa tahun di ratusan tahun yg lalu untuk berkembang menjadi sosok yang dewasa dan besar. Jika dari film AAC tersebut dikatakan baru sebagai embrio/bayi budaya Islam, waduh... ketinggalan jaman namanya. Seharusnya kita semakin dewasa dengan syariat Islam. Semakin tau mana yang halal dan harom, syubhat, makruh, mubah, sunnah dan wajib. Jangan malah minder dan menutupi diri mencari-cari alasan untuk terhindar dari syariat Islam.
Jika tidak tau, bertanyalah pada orang berilmu yang diakui keilmuannya berdasarkan Alqur'an dan Hadits. Dan juga belajar agama itu bersifat kontinyu, tidak berpeng-akhiran. Tapi, nampaknya, kita baru belajar Islam ketika kita punya keperluan saja, misalnya mau buat film Islam, nah baru belajar Islam. Waaah, terlalu mudah kita berpikiran seperti itu, jangan deeh, nanti kita jadi orang yang ketinggalan jaman terus.
Ya sudahlah, ana cuma berkomentar sekalian memberi nasehat, InsyaAllah bermanfaat.
Bukan mencela mereka, tapi justru mengingatkan sebagai wujud rasa kasih sayang sesama muslim.
Wallahu a'lam bi showab...

Monday, December 31, 2007

Refleksi akhir tahun

komentarSaat ini banyak sekali kita jumpai di pinggiran jalan para penjual trompet mainan yang terbuat dari kertas karton, yang di desain dalam berbagai jenis dan ukuran. Nampakya, itu disediakan utuk persiapan penyambutan tahun baru 2008 yang jatuh pada esok hari. Disamping itu juga, pusat-pusat perbelanjaan banyak dikunjungi pembeli. Juga nampaknya banyak orang yang mempersiapkan segala sesuatu yang bbru untuk menyambut tahun baru 2008, baju baru, sepatu baru, tas baru, penampilan baru, dan lainnya. Bukan maksud untuk mengomentari, tapi saya agak heran saja, masalahnya kita masih terkesan terlalu sibuk denga urusan bermegah-megah, sedangkan banyak musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Indonesia ini.
Bukannya mengajak untuk bersedih, tapi sekedar mengajak untuk beralih perhatian di detik-detik penghujung akhir tahun 2007 ini. Sadar atau ga sadar, di akhir tahun ini, sejak mulainya musin penghujan, Indonesia banyak di lanja berbagai musibah dan bencana. Mulai dari banjir, tanah longsor, kenaikan gelombang air laut, dan lainnya. Namun, juga ga sedikit dari kita yang tidak mempedulikan itu, padahal sangatlah mungkin kita juga akan merasa hal yang sama dengan bebapa daerah yang terkena musibah.
Mungkin sekarang saat yang tepat, saat detik-detik di penghujung tahun 2007, menuju tahun 2008 kita memikirkan untuk perbaikan, perbaikan terhadap diri untuk menjadi insan yang lebih bisa bersyukur atas nikmat Allah, juga perbaikan terhadap lingkungan tempat kita hidup, agar di tahun yang akan segera berganti ini kita bisa memperindah nuansa hidup kita membawanya ke nuansa yang kebih baik, suasana kehidupan yang kebih bermakna, yang penuh dengan ketaqwaan dan rasa syukur kepada Allah Ta’ala.

MUSIBAH, sebagai akibat perbuatan tangan manusia

Seperti halnya di beberapa daerah lain yang ditimpa beberapa jenis musibah, seperti banjir dan tanah longsor, Jogjakarta pun diperkirakan akan mencapai puncak curah hujan kisaran bulan Januari – Februari 2008. Informasi ini berasal dari Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) beberapa hari yang lalu. Menanggapi hal demikian kita hendaknya tetap harus waspada, walaupun itu masih dalam jangkauan prediksi alat ciptaan manusia, yang masih sangat mungkin keliru, bisa benar dan juga bisa salah. Tentunya yang lebih berhaq menentukan ialah Sang Kholiq, yang mempunyai kuasa untuk mendatangkan musibah dan bencana bagi umat manusia yang dikenhendaki-Nya. Dan kita manusia, juga harus tetap waspada, waspada terhadap musibah atau bencana, juga waspada terhadap apakah musibah itu Allah timpakan kepada kita karena dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan.

Manusia tidak luput dari kesalahan, karena memang demikian sifat yang dimilki oleh manusia, yaitu banyak bersalah, seperti yang disabdakan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam yang artinya :

“setiap anak Adam banyak-banyak bersalah, dan sebaik-baik orang yang banyak bersalah adalah yang banyak bertaubat.”

Oleh karena itu, dikala Allah menimpakan suatu musibah atau bencana karena ulah manusia yang tidak bersyukur dan banyak berbuat dosa, maka taubatlah yang utama yang harus dilakukan oleh manusia, baik itu oleh orang-orang sholeh, terlebih lagi bagi orang-orang pelaku maksiat dan dosa. Karena tidaklah lain dan tidaklah bukan Allah menimpakan suatu musibah kapada umat manusia atas sebab ulah manusia itu sendiri. Allah berfirman yang artinya :

“Telah tampak kerusakan di darat dan di alut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum : 41).

Banyak manusia yang tidak sadar melakukan suatu perbuatan yang tidak disukai oleh Allah, tanpa memikirkan akibat yang akan menimpa diri mereka, baik itu di dunia maupun di akhirat kelak.
Firman Allah di atas sangatlah sesuai dengan apa yang terjadi di tengah-tengah kehidupan manusia, dimana kebanyakan manusia lupa akhirat, banyak berbuat maksiat dan enggan bahkan lupa untuk bertaubat, sehingga Allah kemudian menimpakan musibah dan adzab. Namun juga demikian, setelah Allah timpakan musibah yang begitu banyak, manusia tidak banyak yang mengerti dengan adanya peringatan tersebut, sehingga mereka tetap melakukan perbuatan mereka yang membuat Allah menjadi murka. Hendaknya kita, kaum muslimin menyisihkan waktu kita untuk menuntut ilmu agama Allah, agar jikalau kita dihadapkan dengan musibah atau bencana, kita mengerti bahwa yang demikian itu adalah peringatan dari Allah, sehingga kita bisa mengambil langkah antisipasi secara spontan dan pasti, yaitu banyak bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas dosa yang pernah kita perbuat di masa lampau. Karena sesungguhnya Allah pun telah menyediakan nikmat yang besar bagi hambanya yang ketika diberi nikmat negeri yang makmur mereka manfaatkan dengan baik dan menjadi manusia yang bersyukur. Allah berfirman yang artinya :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”. (QS. Al-A’roof : 96).

Jadi, sangatlah jelas apa yang akan Allah berikan kepada umat manusia, berupa kenikmatan atau musibah dan bencana, semua sangat tergantung terhadap apa yang manusia itu perbuat, apakah mereka menjadi orang-orang yang bersyukur ataukah sebaliknya, dan Allah telah siap dengan imbalan dari setiap perbuatan manusia itu.

Wednesday, December 26, 2007

Banjir Indonesiaku

Tragis, suasana yang terlihat di Indonesia. Hampir setiap kali menekan tombol channel berita di TV, informasi berita banjir di Indonesia tidak terlewatkan. Terlalu banyak sudah musibah yang menimpa negeri ini, tapi sampai detik ini perubahan nyaris tidak ada, atau boleh dikatakan sangat sedikit sekali.
Terkadang saya berpikir apa gerangan Indonesia diserbu berbagai macam musibah tak terduga yang datang bak semburan peluru tembak. Entah kapan akan berakhir. Mungkin kita akan lega jika musibah yang satu ini berakhir, tapi musibah lainnya siap menerjang. Hati acap kali merasa sedih melihat luka dan derita saudara-saudara yg tertimpa. Tapi kadang juga hati tidak bisa mengelak, jika apa yang Allah berikan itu merupakan akibat perbuatan manusia yang tidak bersyukur. Kita bisa saja turut bersedih, namun terkadang kesedihan itu ditimbulkan oleh kita sendiri yang tidak tau diuntung.
Saat ini bisa saja kita tenang duduk di rumah, di kantor, di sekolah atau di kos-kosan. Namun siapa tau jika kita adalah berikutnya yang akan tertimpa musibah. Waspada! Waspada terhadap datangnya musibah, dan juga waspada jikalau kita juga termasuk dari manusia-manusia yang tipak pandai bersyukur. Bukan prasangka buruk, cuma kehati-hatian menjaga diri dari lupa akhirat, dan tidak bersyukur.

Jakarta, ibukota negara, tapi keadaannya sangat menyedihkan. Tempat banyak orang beraktivitas mencari nafkah keluarga, kini menjadi derita banyak orang. Jika tidak bisa menengok atau memberi bantuan kepada saudara kita di Jakarta atau darah lainnya yang terkena musibah, maka berdoa adalah komunikasi kita dengan Allah memohon ampunan dan keringanan atas musibah, karena Dialah yang mempunyai kehendak atas semua itu.

Sunday, December 23, 2007

FILM AYAT-AYAT CINTA, Fitnah bagi umat Islam

Sudah sangat tidak asing judul sebuah Novel laris “Ayat-Ayat Cinta” dikalangan masyarakat Indonesia. Novel yang sangat laris tersebut sudah banyak mengambil hati orang banyak, terutama kaum muslimin di Indonesia. Sekitar tahun 2005 lalu, saya sendiri pernah ikut dalam acara kepanitiaan bedah buku tersebut. Cukup ramai para peserta yang hadir dalam, bahkan auditorium tempat dilaksanakannya acara tersebut nyaris penuh. Habiburrahman El-Shirazy sendiri dapat kami hadirkan saat itu sebagai pembicara yang didampingi oleh Ust. Faudzil Adhim. Beliau sang pengarang novel mengatakan bahwa novel karangannya itu adalah kisah nyata yang pernah dialaminya saat kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir. Selanjutnya beliau tuliskan kisah tersebut sehingga menjadi sebuah novel. Namun, bagaimana pun juga sebuah novel merupakan karangan yang dibuat-buat, walaupun isinya menggambarkan sebuah kisah nyata dari seseorang atau orang banyak sekalipun, pasti ada unsur tambahan yang menjadikan cerita novel itu menjadi lebih menarik.
Novel ayat-ayat cinta yang saat ini telah di-film-kan justru menambah fitnah dikalangan kaum muslimin. Yang pasti ada niat baik dalam pemutaran film tersebut, namun niat tersebut tidak dibarengi dengan ilmu yang haq sehingga kelihatan sangat rancu. Tokoh pemain yang di-dandani dengan busana muslimah super tertutup itu justru yang menjadi tipu daya manusia terhadap syariat Islam yang sebenarnya. Bukan sekedar pakai cadar yang hanya di film saja, yang artinya itu mempermainkan syariat Islam, namun juga peran skenario yang memperbolehkan pegang-pegangan tangan pada lawan jenis yang bukan mahrom. Seharusnya, kita umat muslim sudah sangat paham dengan adanya larangan berpegangan tangan (saling bersetuhan) antara lawan jenis yang bukan mahrom. Yakni dalam firman Allah yang berbunyi :
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Isroo’:32)

Zina disini bermakna luas, yaitu dimulai dari hal-hal atau perbuatan yang mengantarkan kepada zina tersbut sampai pada zina yang dimaksudkan dengan bersetubuh. Namun, tampaknya banyak orang yang menyalahartikan ayat tersebut. Bahkan yang sangat ekstrim mengartikan ayat tersebut adalah dengan beranggapan bahwa yang dialarang adalah “mendekatinya”, bukan melakukannya. Jadi, jika kita hanya mendekati zina tersebut, itulah yang dilarang, sedang melakukan zina-nya tidaklah dilarang, begitu kata mereka. Ini adalah pemaknaan yang bathil dan jauh dari kebenaran.
Terlebih lagi dalam film tersebut yang hanya bersandar pada tafsiran kaum awam yang mengatakan bolehnya berpegangan tangan asalkan tidak dibarengi nafsu. Padahal Nabi sudah sangat jelas mencontohkan bahwa beliau shollallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyentuh wanita, kecuali yang halal baginya. Nabi bersabda yang artinya :
“Sesungguhnya, aku tidak berjabat tangan dengan wanita”.

Aisyah berkata yang artinya :
“Tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan perempuan (bukan mahramnya) sama sekali. Ketika bai’at, mereka hanya maba’iatnya dengan perkataan”.

Oleh karena itu, kita umat muslim hendaknya tau siapa yang berilmu, sehingga kita bisa merujukkan suatu perkara dalam agama ini kepada tempat yang sesuai, yang bisa mempertanggungjawabkan perkara tersebut berdasarkan Al-quran dan Sunnah Nabi.

Lalu apalagi yang mebolehkan kita untuk menyentuh wanita yang bukan mahrom, sedang larangan dan petunjuk dari Nabi sudah sangat jelas.
Maka sebenarnya film ayat-ayat cinta tersebut tidak sesuai dengan niat baiknya meyebarkan syiar Islam, karena syiar yang disampaikan di dalamnya belum sesuai dengan syariat Islam yang benar adanya. Namun sudah terlanjur, banyak umat Islam yang sangat senang dan mendukung pemutaran film tersebut dan menjadikannya hujjah sehingga muncullah istilah “pacaran Islami” atau "pegangan tangan ala Islam”, atau bahkan “zina Islami”. Dan inilah sesungguhnya yang diakatakan fitnah, karena istiah Islam sudah disalahgunakan karena sebab model atau jenis film yang mengatasnamakan Islam menyebarluas di tengah kaum muslimin.

Entah seperti apa film yang akan diputar nanti. Entah seperti apa perasaan para muslimah yang memang mengenakan jilbab bercadar dalam busana sehari-harinya melihat film tersebut yang menayangkan jenis busana yg sama namun berpegangan tangan, atau adegan lainnya sesuai dengan skenario sutradara. Inilah fitnah, yang bercadar lainnya pun seakan-akan juga termasuk orang yang mempermainkan syariat Islam dengan adanya film tersebut, padahal mereka mengenakan jilbab bercadar karena memang mereka paham ilmu dan khawatir terhadap pergaulan bebas manusia zaman sekarang, sehingga mereka lebih memilih untuk menutup diri dngan serapat mungkin. Namun, keberadaan film itu seakan menutup niat mulia para wanita muslimah tersebut.

Sesungguhnya Allah mengetahui apa akan terjadi nanti, ini hanyalah sekelumit gambaran sesaat menjelang pemutaran film Ayat-Ayat Cinta itu, mungkin saja bisa berubah dan itu yang saya harapkan...

Monday, November 12, 2007

Listrik takut hujan

Sudah beberapa hari ini Indonesia diguyur hujan. Hampir seluruh wilayah Indonesia disiram hujam dalam waktu yang bersamaan. Hujan adalah rahmat Allah yang memberi manfaat besar bagi makhluk hidup di dunia ini. Oleh kerena itu kita dituntun untuk berdoa kepada Allah agar hujan yang yg turun memberikan rahmat dan manfaat yang besar.
Namun, lain cerita di Indonesia, hampir setiap kali musim hujan turun selalu diiringi dengan kejadian 'mati lampu mendadak'. Entah apa penyebabnya. Terlebih lagi 'kejadian' itu tidak ada penjelasan informasi apa penyebabnya dari PLN. Sehingga banyak orang yg jengkel dengan kejadian itu dan warga menjadi banyak mengeluh.
Peristiwa ini seolah menjadi suatu fenomena yang 'otomatis' terjadi di setiap kali hujan turun. Hujan turun, lalu diikuti dengan padamnya listrik. Seakan-akan listrik takut sama air.
Sebagai mahasiswa, hal ini sangat merugikan. Banyak hal yg menyangkut studi menjadi tertunda karena padamnya listrik ketika hujan turun. Ketika negara lain menjadikan sampah sebagai bahan alternatif pembangkit tenaga listrik, maka Indonesia menjadikan sampah sebagai masalah lainnya yg belum terselesaikan. Para pelajar dan mahasiswa harus kembali bernostalgia ke zaman nenek moyang mereka yang hidup tanpa listrik di setiap musim hujan datang. Sehingga perkembangan bukanlah maju kedepan, tapi mundur dulu kemudian baru maju lagi, atau dapat dikatakan perkembangan maju mundur.
Listrik, sepele didengar dan disebut, tapi terlalu banyak manfaat yang dirugikan ketika 'ia' tak ada. Zaman Nabi Muhammad dulu, sama sekali tidak ada listrik. Mereka cuma bermodal cahaya api di obor-obor mereka yang menyala berani untuk melawan orang-orang pengganggu Islam. Namun kenyataannya Islam jaya saat itu. Nah, seharusya pada zaman sekarang ini yang cahaya bukanlah lagi dari api bisa menjadikan suatu negara lebih maju dan jaya. Artinya, zaman Nabi saja yg demikian, bisa mejadikan Islam membangun sistem pemerintahan/negara yang maju. Apalagi kita!
Semua harus kita jadika renungan. Keimanan orang-orang terdahulu sangatlah tinggi, sehingga mereka selalu mendapat pertolongan Allah walaupun tidak ada listrik seperti sekarang ini. Sangatlah mungkin keluhan listrik padam yang dialami oleh bangsa kita saat ini disebabkan oleh lemahnya atau rendahnya iman kaum muslimin, sehingga Allah justru menimpakan musibah dikala diturunkannya hujan yang penuh rahmat dan manfaat.
Ini bisa menjadi koreksi bagi diri kita pribadi masing-masing, bahwa setiap yang menimpa kita asalnya dari Allah semata.